Sabtu, 21 November 2009

Peranan Pemuda Dalam Perjuangan Kemerdekaan Nasional

Peranan Pemuda Dalam Perjuangan Kemerdekaan Nasional
Oleh: Saiful Hakki

Pemuda yang memiliki semangat yang menyala-nyala dan berkobar-kobar, ternyata sangat penting sekali peranannya dalam melakukan prlawanan terhadap kolonialisme yang telah menjajah bangsa ini ber abad-abad lamanya, maka tak ayal ada yang mengatakan bahwa Revolusi Agustus 1945 di katakan sebagai revolusi pemuda.
Kebijakan Politik etis 1901 di Hindia Belanda telah memberikan angin segar terhadap Bumi Putra / rakyat indoonesia dalam kesadaran menuju kemerdekaan sebuah bangsa yang telah lama tereksploitasi dari penjajahan Belanda, di abad ke-XX ini adalah kebangkitan bumi putra dalam cita-cita kemerdekaan negara yang di tandai dengan lahirnya beberapa organisasi modern, dalam istilahnya Takeshi Shiraisi dalam bukunya “Zaman Bergerak” sebagai titik tolak radikalisasi rakyat jawa. Perkembangan situasi ekonomi sosial politik pada masa itu telah memberikan pelajaran bagi pemuda bangsa khususnya dan rakyat ini, sehingga terbangunlah organisasi pemuda “ Mahasiswa STOVIA “ School tot Opleiding voor Inlandsche Arsten yang kita kenal demgan Boedi Oetomo ( BO ) pada tamggal 20 Mei 1908, atau yang kita kenal sebagai hari kebangkitan Nasional B-O adalah organisasi pemuda modern “ dalam hal ini memiliki pandangan politik dan pemimpin” yang lahir dari pmuda-pemuda bumi putra walaupun toh berangkat dari kesadaran lokal. Dengan lahirnya B-O sasngat berpengaruh sekali atas kondisi sosioal politik di Hindia Belanda dan kelahiran organisasi-oganisasi modern lain. Dengan semakin menonjolnya orientasi politik di kalangan pemuda tak jarang yang meleburkan dan ikut serta dalam organisasi-organisasi lain seperri Sarikat Islam ( SI ) yang lahir di Lawean Solo, Indische Party ( IP ) dan sebagainya.
Setelah pemberontakan-pemberontakan terjadi oleh massa rakyat di beberapa daeraah pada tahun 1926 terhadap kolonialisme telah memberikan batu alas akan semangat Nasionalisme dan cita-cita kemerdekaan di sadari maupun tidak hal tersebut dapat kita lihat atas ikrar pemuda pada tahun 1928 tepatnya pada tanggal 28 Oktober ( Sumpah Pemuda ), dengan sumpah setianya “ Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa Indonesia ”, di mana rumuasan yang termanifes ini tidak lain dari bentuk identitas atau simbol nasionalis, sebagai langkah persatuan dalam menggalang kekuatan untuk melawan kolonial. Atau dapat kita lihat sebagai Counter Idology ( idiologi tandingan ) yang secara komprehensip dapat di artikan sebagai tandingan simbol perlawanan kepada kolonial.
Pada masa penjajahan Fasisme Jepang ( 1942-1945 ), akibat dari kuatnya represifitas dan bengisnya tentara jepang terhadap bangsa ini telah mengakibatkan krisis pergerakan, akan tetapi pemuda tidak ambil diam atas situasi tersebut dengan semangat kemerdekaan inilah pemuda banyak melakukan pergerakan di bawah tanah “ Under Ground “ untuk terus mempresur kekuatan jepang dengan wadah persartuan.
Di sinilah dapat kita lihat bersama bagaimana peranan pemuda pada masa detik-detik kemerdekaan / revolusi Agustus-45, dengan menujukkan jiwa pemudanya yaitu semangat yang berkobar-kobar telah menimbulkan perdebatan atau perbedaan pandangan antara golongan muda dengan golongan tua, namun tetap dalam satu cita-cita yaitu kemerdekaan Indonesia. Pemuda dengan jiwa mudanya menginginkan kemerdekaan Indonesia di jalankan dengan cara yang revolusioner upaya membuktikan bahwa proklemasi kemerdekaan bukanlah hasil pemberian Jepang akan tetapi tidak lain dari hasil jerih payah rakyat Indonesia. Sehingga terjadilah penyerangan terhadap Jepang dan peristiwa Rengasdengklok dengan melakukan penculikan terhadap Soekarnao dan mendesaknya untuk memproklamirkan kemerdekaan indonesia, yang mana di inisiasi oleh golongan muda atau tepatnya adalah Kelompok Studi Mahasiswa yaitu kelompok Menteng-31 sehingga terwujudlah kemerdekaan Indonesia. Hal tersebut ini telah menujukkan bagi kita bahwa peranan pemuda sangat penting disini dalam proses menuju Indonesia merdeka dan cukup relevan jika di katakan bahwa proklamasi kemerdekaan indonesia adalah sebagai revolusi pemuda mengingat peranannya yang cukup besar dengan turut andil dalam kemerdekaan Agustus-1945.

Mengembalikan Jiwa Nasionalisme Bagi Pemuda Indonesia
Arus globalisasi dengan sistim leberalismenya telah mengakibatkan bangsa ini kembali pada zaman kolonial dahulu yang bermetamorfosis, pemuda tidak lagi bangga akan budaya bangsa ini serta kecintaan terhadap bimi pertiwi ini sudah tak terlihat kembali akibat doktrin globalisasi yang mengarahkan pikiran pemuda kepada arah pragmatisme dan konsumerisme atau pendek katanya kalau tidak berbau barat tidak gaul, bahkan yang sangat ironis sekali kesadaran berorganisasipun di jauhi oleh kalangan pemuda akibat banyaknya hiburan-hiburan / dugem mengakibatkan budaya hedonisme menjadi virus atas kecintaannya terhadap bangsa ini dan semakin menjauhkan dirinya dari realitas sosialnya.
Padahal kalau kita lihat secara teori sosial suatu masyarakat yang modern salah satu cirinya selain di tandai dengan majunya teknologi juga, adalah tergabungnya individu-induvidu dalam strata sosial atau organisasi namun pada kenyataanya doktrin Neo-Liberalisme telah menghancurkan segala sendi kehidupan bangsa ini bukan hanya di bidang ekonomi saja bahkan moral pemudapun telah terkena imbasnya dengan budaya konsumerisme, hedonisme dan Life Style-nya saat ini, melalui media penayangan sinetron, film, dan sebagainya.
Melihat persoalan pemuda tersebut sangat mengelus dada, padahal kalau kita lihat pada sejarah bengsa ini dimana peranan pemuda terhadap kemerdekaan sangatlah penting peranannya, dapat kita bandingkan kesadaran berorganisasi peda abad XX sangat tinggi sekali namun saat ini pemuda indonesia sudah mengalami penurunan terhadap kesadaran dan kecintaannya nation ini akibat penjajahan model baru yaitu dengan penanaman budaya-budaya barat “Westernisasi” terhadap bangsa ini dan tentunya juga bidang ekonomi.
Tentunya tugas pemuda kedepan sangatlah besar dan mulia, selayaknya seorang pemuda yang harus memiliki jiwa patriotik, progressif, militan dan dinamis dalam mengemban tugas sejarah bangsa, jika realitas pemuda hari ini jauh dari karakter dan jiwa tersebut, maka sadar atau tidak kita akan tergilas dan terseret oleh jalannya sejarah yang senantiasa berdialektik, berkembang dan bergerak....
Denagan demikian saatnyalah pemuda kembali mengobarkan semangat juangnya dan mengembalikan kecintaannya terhadap nation ini, yang mesih dalam keadaan terjajah oleh imperialisme dengan menyatukan diri dalam organisasi-organisasi kepemudaan, sehingga pemuda kembali memberikan angin segar terhadap nation indonesia yang sebentar lagi akan merayakan kemerdekaannya.

"Selamat BerKontradiksi"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar